0282 695797

kesugihan.desa@gmail.com

Permohonan Online

Anda dapat mengajukan secara permohonan online

Produk Warga

Jelajahi produk lokal buatan dari para warga kami untuk Anda

Lapor/Aduan/Saran

Anda dapat melaporkan aduan dan memberi saran maupun kritik

Bersih Makam, Ruwatan Bumi, hingga Wayang Kulit Meriahkan Tasyukuran Bumi Desa Kesugihan 2026

Rangkaian kegiatan Tasyukuran Bumi Kembali di gelar di Desa Kesugihan. Kegiatan ini merupakan manifestasi dari rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil bumi, keselamatan, serta keberkahan yang diberikan kepada seluruh warga. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini bukan sekadar agenda budaya, melainkan juga menjadi ruang untuk memperkuat persatuan, melestarikan nilai-nilai kearifan lokal, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sejarah serta identitas Desa Kesugihan. Berbagai kegiatan berlangsung sejak pagi hingga malam hari dengan melibatkan unsur pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, serta masyarakat dari Desa Kesugihan dan Desa Kesugihan Kidul.

 

Rangkaian kegiatan diawali pada Senin, 6 Juli 2026 pukul 07.00 WIB dengan kegiatan Bersih Makam dan Doa Bersama di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Kesugihan dengan titik kumpul di kompleks makam Mbah Nyai Sugih. Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat Desa Kesugihan dan Desa Kesugihan Kidul yang secara gotong royong membersihkan area pemakaman sebelum dilanjutkan dengan doa bersama. Tradisi bersih makam mengandung nilai luhur berupa penghormatan kepada para leluhur, mengingatkan generasi penerus akan jasa orang-orang terdahulu, sekaligus menanamkan kesadaran bahwa kebersihan lingkungan makam merupakan bagian dari penghormatan terhadap sesama manusia. Doa bersama yang dipanjatkan juga menjadi ikhtiar spiritual agar seluruh warga senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, dan keberkahan dalam menjalani kehidupan.

Kompleks makam Mbah Nyai Sugih memiliki nilai historis yang erat kaitannya dengan asal-usul Desa Kesugihan. Berdasarkan cerita yang berkembang di tengah masyarakat secara turun-temurun, Mbah Nyai Sugih merupakan salah satu tokoh yang diyakini memiliki peran penting dalam perkembangan wilayah Kesugihan pada masa lampau. Nama “Kesugihan” sendiri sering dikaitkan dengan harapan akan kehidupan yang berkecukupan, bukan semata-mata dalam arti kekayaan materi, melainkan juga keberlimpahan rezeki, kerukunan, kesehatan, dan keberkahan hidup. Oleh karena itu, ziarah dan doa yang dilakukan masyarakat bukanlah bentuk pemujaan kepada tokoh tersebut, melainkan sebagai penghormatan kepada jasa para pendahulu sekaligus pengingat agar generasi sekarang tetap menjaga nilai-nilai kebersamaan yang telah diwariskan.



Pada pukul 13.00 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan Ruwatan Bumi melalui pagelaran wayang ruwatan yang diselenggarakan di Balai Desa Kesugihan hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Dalam tradisi masyarakat Jawa, ruwatan dimaknai sebagai doa dan harapan agar seluruh masyarakat dijauhkan dari berbagai musibah, mara bahaya, maupun hal-hal yang dapat mengganggu ketenteraman kehidupan. Wayang dipilih sebagai media karena sejak dahulu tidak hanya berfungsi sebagai hiburan rakyat, tetapi juga menjadi sarana penyampaian nilai-nilai moral, pendidikan karakter, falsafah kehidupan, dan ajaran tentang kebajikan. Melalui lakon yang dibawakan, masyarakat diajak untuk senantiasa menjunjung kejujuran, kebijaksanaan, tanggung jawab, serta menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

 


Memasuki malam hari, tepat pukul 20.00 WIB, masyarakat memadati halaman Balai Desa Kesugihan untuk mengikuti acara puncak berupa Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk yang dibawakan oleh Ki Dalang Sigit Djono Saputro. Sebelum pertunjukan dimulai, terlebih dahulu dilaksanakan acara seremonial yang diawali dengan sambutan dari Camat Kesugihan, Bapak Wawan Mardiono, S.STP., M.Si., kemudian dilanjutkan sambutan Ketua Panitia Gunawan serta Kepala Desa Kesugihan, Yeto Susalit. Dalam sambutannya, para narasumber menyampaikan apresiasi atas semangat gotong royong masyarakat dalam menjaga tradisi serta mengajak seluruh warga untuk terus merawat budaya sebagai bagian dari jati diri bangsa sekaligus memperkuat persatuan di tengah perkembangan zaman.

Pagelaran wayang kulit sendiri merupakan salah satu warisan budaya adiluhung Nusantara yang telah diakui dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO. Di balik setiap tokoh dan alur cerita yang ditampilkan, tersimpan berbagai pesan kehidupan mengenai kepemimpinan, kejujuran, keberanian, kesabaran, hingga pentingnya menegakkan kebenaran. Oleh karena itu, pelestarian wayang bukan hanya menjaga sebuah kesenian tradisional, tetapi juga mempertahankan media pembelajaran yang telah diwariskan selama berabad-abad dan tetap relevan sebagai sumber pendidikan karakter bagi generasi masa kini.

Keberhasilan penyelenggaraan Tasyukuran Bumi Tahun 2026 merupakan hasil dari sinergi seluruh elemen masyarakat, pemerintah desa, panitia, para tokoh agama, tokoh masyarakat, lembaga desa, pemuda, serta seluruh warga yang telah berpartisipasi dengan penuh semangat kebersamaan. Melalui kegiatan ini diharapkan nilai-nilai gotong royong, rasa syukur, penghormatan kepada sejarah, serta kecintaan terhadap budaya lokal dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Tasyukuran Bumi tidak hanya menjadi perayaan tradisi tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat identitas Desa Kesugihan sebagai desa yang tetap menjaga warisan leluhur sembari terus bergerak menuju kemajuan.

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca artikel lainnya